Ewai Alemu

Kematian datang tanpa pernah kita tahu. Ia punya jalannya sendiri yang selalu luput kita bayangkan. Ia dekat, dekat, dekat!

Betapa kabar kematian itu selalu mengundang duka. Apalagi jika itu datangnya dari yang dekat, dalam silsilah juga jiwa. 

Kemarin kabar duka itu datang lewat panggilan telepon ke istri saya.

“Yan, Opu meninggal. Baru saja.” Opu, begitu kami memanggilnya. Ia adalah kakek mertua saya, suami dari bibi mertua saya.

Sepanjang ingatan saya sejak mengenalnya dua tahun lalu, ia adalah pribadi yang baik. Ia perhatian kepada keluarganya, suka memberi wejangan, juga pengasih. Bagi saya, ia juga teman cerita yang baik. Terakhir kali mengobrol dengannya, saat malam terakhir kami di Bone-Bone sebelum kepulangan ke Bone, awal tahun ini. Ia di rumah sampai jam 12 lewat. Mengobrolkan banyak hal juga memberi wejangan dengan ganyanya yang santai, ringan dan lepas.

Di antara banyak hal berkesan adalah, saat kami masih baru di Bone-Bone, saya tidak punya pekerjaan — penghasan ketika itu hanya honor dari pekerjaan freelance yang masuknya jarang. Ia dan istrinya kerap mengantatkan beras juga ikan kering. 

*

Di antara kami berdua–saya dan istrilah yang paling sedih dan merasa kehilangan. Sebab baginya, Opu sudah seperti ayahnya sendiri. 

“Saya sedih tapi selalu berusaha untuk tak menangis,” kata saya.

“Waktu Etta (ayahnya) meninggal, saya juga tidak menangis.”

“Saya tidak menangis waktu Etta meninggal,” kisahnya mengenang, “saya tidak peduli dengan yang datang, yang saya tahu rumah sedang ramai. Saya tidak lagi mendengar orang-orang menangis, yang saya lihat mereka murung. Saya tidak menangis dan saya tidak tahu perasaan macam apa yang saya rasakan.”

Barangkali, puncak dari rasa duka itu adalah ketika kita tak lagi (atau tidak tahu) merasakan apa-apa. Air mata tak lagi mampu mewakilkannya, tapi segala duka tergurat jelas pada wajah. Kesadaran lenyap, dan sekitar menjadi fana.

*

“Ewai alemu, ewai alemu, ewai alemu.”

“Sadarkan dirimu, bantu dirimu, kuatkan dirimu”

Begitulah kami dinasehatkan menghadapi duka yang (terlampau) dalam. Datangkanlah kesadaran untuk mencerna keadaan. Bantulah dirimu menghadapi kenyataan. Kuatkan dirimu untuk bangkit meneruskan hidup.

“Waktu bapak meninggal, saya tidak menangis, saya menyaksikan beliau sakaratul maut, saya mengiring jenazahnya ke ambulan dan mengikutinya dari belakang dengan motor, saya memandikan jenazahnya, mengantarnya hingha liang lahatnya. Saya berduka, sayasedih.h Tapi saya tak menangis. Saya tidak menangis,” kata saya.

Ketika itu, yang saya tahu, saya harus kuat. Harus kuewai aleku.

FLP Bone; Setelah Tidurnya

Jika kamu mati lalu Tuhan memberimu kesempatan kedua, apa yang akan kamu lakukan?

Barangkali jamak sebuah organisasi mengalami pasang-surut atau kembang-kempis. Ada banyak juga yang mati setelah mekarnya, bahkan mati saat masih tunasnya. Ada yang meyebut fase itu sebagai gugur bunga, ada juga yang menyebutnya sebagai fase mati suri—sebelum akhirnya sungguh-sungguh mati. Ada pula yang menyebut itu sebagai fase dorman.

Lanjutkan membaca “FLP Bone; Setelah Tidurnya”

Tuhan Punya Banyak Rahasia

Mengapa kita dilahirkan?

Tentu saja, di anrara jutaan sperma itu kitalah yang terpilih dan berjodoh dengan sel telur. Di dalan rahim kita tumbuh dan … mengikat perjanjian sebagai hamba kepada Tuhan Yang Satu.

Kita lahir dengan rezeki, jodoh, juga kematian yang telah ditetapkan. Tapi kita tak pernah tahu itu semua sebelum bertemu dengannya. Tuhan memang menyimpan banyak rahasia. Di antaranya ada yang mampu kita ungkap, ada pula yang berhenti di batas tanya.

Di pagi-pagi yang lalu dan kopi-kopi yang telah tandas, saya sering bertanya banyak hal. Pagi ini, setelah memeriksa timun yang sakit dan bibit sawi, saya membuka facebook. Di sana, teman saya membagikan foto jalan-jalannya ke luar negeri. Ada yang cerita soal pekerjaannya atau usahanya. Ada yang foto bersama suami atau anaknya, ada yang masih berharap ketemu jodohnya.

Saya mencoba menjelajahi dunia mereka dalam bangunan imajinasi saya. Oh, betapa berbahagia mereka. Perjalanan imajinasi itu putus ketika rak tanam di depan rumah ambruk dan membawa saya ke dalam dunia nyata.

Nyatanya sekarang saya hidup di kampung pinggiran yang akses yang sulit. Nyatanya saya sekarang tukang sayur dengan kebun beberapa bedengan saja. Nyatanya saya masih bertanya-tanya, untuk apa saya di sini?

Saya masih selalu terkenang tahun-tahun silam. Ketika mengunjungi pelosok-pelosok Indonesia bagian timur. Ketika sesekali jadi relawan. Ketika mudah belajar banyak hal. Ketika menolak pekerjaan. Ketika tampil memimpin. Ketika tampil bicara. Ketika … Dan kini?

Tuhan tentu punya rahasia, dan saya harus tahu kenapa.

Lalu anda yang membaca tulisan ini hingga akhir, dapat apa? Oh, maafkanlah… 

Tuhan tentu punya rahasia, dan kita harus tahu kenapa.