607 Hari yang Lalu

05.22.2017

tanggal terakhir saya nge-post di blog ini. Setelahnya, saya hanya menulis di facebook atau instagram (yang masih baru).

Kenapa berhenti posting?

Pertama, laptop pink yang biasa saya pakai itu rusak.Itu kenapa blog istri saya, Dikpa Lathifah juga mati suri.

Kedua, saya memang tidak militan dalam mengurusi blog ini. Saya tinggal di kampung, dari rumah ke warnet berjarak belasan kilometer. Saya malas, dan tidak mau bayar.

Ketiga, email yang saya pakai daftar blog ini terblokir, berikut nomor hape yang saya daftarkan untuk verifikasi kalau-kalau hal semacam ini terjadi, juga terblokir.

Lalu, kenapa saya akhirnya bisa posting satu tulisan ini?

Awalnya saya bikin blog baru. Yang kemudian saya hapus lagi. Karena ternyata, setelah iseng masukkan user dan password yang sempat terlintas, akhirnya terbuka juga.

Kenapa tidak beli laptop baru?

Kamu tahu alasannya, kan? Maunya sih secepatnya, biar istri bisa ngeblog lagi, biar Kota Buku bisa terima orderan editing lagi.

Ini saya lagi ikut seleksi jadi admin web di sebuah instansi. Mohon doanya supaya lulus.

Sekian. 😀

Iklan

Ewai Alemu

Kematian datang tanpa pernah kita tahu. Ia punya jalannya sendiri yang selalu luput kita bayangkan. Ia dekat, dekat, dekat!

Betapa kabar kematian itu selalu mengundang duka. Apalagi jika itu datangnya dari yang dekat, dalam silsilah juga jiwa. 

Kemarin kabar duka itu datang lewat panggilan telepon ke istri saya.

“Yan, Opu meninggal. Baru saja.” Opu, begitu kami memanggilnya. Ia adalah kakek mertua saya, suami dari bibi mertua saya.

Sepanjang ingatan saya sejak mengenalnya dua tahun lalu, ia adalah pribadi yang baik. Ia perhatian kepada keluarganya, suka memberi wejangan, juga pengasih. Bagi saya, ia juga teman cerita yang baik. Terakhir kali mengobrol dengannya, saat malam terakhir kami di Bone-Bone sebelum kepulangan ke Bone, awal tahun ini. Ia di rumah sampai jam 12 lewat. Mengobrolkan banyak hal juga memberi wejangan dengan ganyanya yang santai, ringan dan lepas.

Di antara banyak hal berkesan adalah, saat kami masih baru di Bone-Bone, saya tidak punya pekerjaan — penghasan ketika itu hanya honor dari pekerjaan freelance yang masuknya jarang. Ia dan istrinya kerap mengantatkan beras juga ikan kering. 

*

Di antara kami berdua–saya dan istrilah yang paling sedih dan merasa kehilangan. Sebab baginya, Opu sudah seperti ayahnya sendiri. 

“Saya sedih tapi selalu berusaha untuk tak menangis,” kata saya.

“Waktu Etta (ayahnya) meninggal, saya juga tidak menangis.”

“Saya tidak menangis waktu Etta meninggal,” kisahnya mengenang, “saya tidak peduli dengan yang datang, yang saya tahu rumah sedang ramai. Saya tidak lagi mendengar orang-orang menangis, yang saya lihat mereka murung. Saya tidak menangis dan saya tidak tahu perasaan macam apa yang saya rasakan.”

Barangkali, puncak dari rasa duka itu adalah ketika kita tak lagi (atau tidak tahu) merasakan apa-apa. Air mata tak lagi mampu mewakilkannya, tapi segala duka tergurat jelas pada wajah. Kesadaran lenyap, dan sekitar menjadi fana.

*

“Ewai alemu, ewai alemu, ewai alemu.”

“Sadarkan dirimu, bantu dirimu, kuatkan dirimu”

Begitulah kami dinasehatkan menghadapi duka yang (terlampau) dalam. Datangkanlah kesadaran untuk mencerna keadaan. Bantulah dirimu menghadapi kenyataan. Kuatkan dirimu untuk bangkit meneruskan hidup.

“Waktu bapak meninggal, saya tidak menangis, saya menyaksikan beliau sakaratul maut, saya mengiring jenazahnya ke ambulan dan mengikutinya dari belakang dengan motor, saya memandikan jenazahnya, mengantarnya hingha liang lahatnya. Saya berduka, sayasedih.h Tapi saya tak menangis. Saya tidak menangis,” kata saya.

Ketika itu, yang saya tahu, saya harus kuat. Harus kuewai aleku.

FLP Bone; Setelah Tidurnya

Jika kamu mati lalu Tuhan memberimu kesempatan kedua, apa yang akan kamu lakukan?

Barangkali jamak sebuah organisasi mengalami pasang-surut atau kembang-kempis. Ada banyak juga yang mati setelah mekarnya, bahkan mati saat masih tunasnya. Ada yang meyebut fase itu sebagai gugur bunga, ada juga yang menyebutnya sebagai fase mati suri—sebelum akhirnya sungguh-sungguh mati. Ada pula yang menyebut itu sebagai fase dorman.

Lanjutkan membaca “FLP Bone; Setelah Tidurnya”